Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa
Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-
Dari dapur belakang terdengar bunyi panci. Seseorang tertawa di luar. Seorang pembeli memesan rokok, lalu pergi lagi. Carmen tetap tenang, seperti sudah terbiasa menyimpan percakapan di tengah gangguan sehari-hari.
“Aku dulu mengira semua yang baik harus berakhir dengan tinggal,” katanya. “Kalau seseorang pergi, berarti cintanya kurang. Begitu pikirku waktu itu.”
“Lalu?”
“Lalu hidup menertawakan pikiranku.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku pernah membaca Ibn Arabi,” lanjutnya. “Ia menulis bahwa hati manusia bisa menjadi bentuk apa saja. Aku suka kalimat itu karena ia membebaskan. Artinya hati tidak harus dibangun seperti rumah permanen. Ia bisa menjadi tenda. Bisa menjadi persinggahan.”
Ia memandang keluar, ke jalan berdebu di depan warung. “Fanny mengajariku, barangkali tanpa sengaja, bahwa tidak semua yang singgah harus tinggal untuk menjadi berarti.”
Aku menyesap kopi. “Tapi bukankah itu menyakitkan?”
“Jelas.” Ia tertawa, kali ini lebih jujur. “Yang menyakitkan bukan kepergian itu sendiri. Yang menyakitkan adalah harapan bahwa dunia seharusnya patuh pada keinginan kita.”
Ia mengetuk meja pelan dengan kuku jarinya. “Setelah ia pergi, aku marah. Lalu sedih. Lalu marah lagi pada diriku sendiri karena masih sedih. Pada akhirnya aku lelah. Dari kelelahan itulah kadang orang mulai waras.”
“Jadi kau memaafkannya juga?”
“Aku tidak tahu apakah itu memaafkan atau sekadar menerima bahwa setiap orang punya jalan yang tak selalu melibatkan kita.”
Ia mengangkat cangkir, lalu berkata pelan, “Para sufi sering bicara tentang fana, tentang lenyapnya keakuan. Di dunia biasa, itu terasa terlalu tinggi. Tapi mungkin bentuk sederhananya begini: berhenti meyakini bahwa semua yang kita cintai harus menjadi milik kita.”
Kalimat itu tinggal di udara beberapa saat.
“Kau sendiri,” katanya kemudian, “mencari apa?”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: