Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa
Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-
Aku ingin menjawab, tapi tidak segera bisa. “Pernah.”
“Lalu?”
“Capek.”
Bu Musa tersenyum tipis. “Nah. Dendam itu seperti membawa bakul berisi batu ke mana-mana dan menyebutnya harga diri.”
Ia bangkit, membuka jendela sedikit lebih lebar, lalu kembali duduk.
“Saya juga pernah membaca Rabi’ah,” katanya, “tentang cinta yang tak menuntut balasan. Mula-mula saya tidak mengerti. Dalam hidup sehari-hari, hampir semua orang menuntut sesuatu: pengertian, kesetiaan, pengakuan, atau sekadar ucapan terima kasih. Tapi barangkali yang dimaksud para sufi bukan cinta yang lemah. Melainkan cinta yang sudah begitu luas sehingga tak sempat lagi menghitung.”
Ia meletakkan cangkir di lantai.
“Suatu pagi saya sadar: kalau saya terus marah pada Fanny, sebenarnya saya sedang membuatnya tetap tinggal di dalam hati saya, dalam bentuk yang paling buruk. Maka saya belajar melepaskannya.”
“Memaafkan?” tanyaku.
“Ya. Tapi jangan bayangkan itu indah.” Ia tertawa kecil, pahit namun ringan. “Memaafkan itu kerja yang kasar. Seperti mengangkat lumpur dari dasar sumur. Tidak sekali jadi.”
Ia masuk ke kamar sebentar, lalu kembali membawa secarik kertas kecil yang sudah dilipat.
“Tidak usah dibaca,” katanya. “Kalau suatu hari kamu bertemu dia, berikan ini.”
Aku menerima kertas itu.
“Katakan juga,” lanjutnya, “saya baik-baik saja. Tidak sepenuhnya sembuh, tapi cukup waras untuk tidak lagi memelihara luka.”
Ketika aku pamit, Bu Musa mengantarku sampai teras. Sebelum aku turun anak tangga, ia berkata, “Anak muda, hati-hati. Orang yang terlalu lama berjalan sendirian kadang lupa bahwa beban bisa dibagi.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: