Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa
Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-
“Jadi,” katanya, “apa kata Bu Musa? Apa kata Carmen? Jangan-jangan dua-duanya menangis dan memelukmu?”
“Tidak.”
“Nah, bagus. Orang yang terlalu cepat menangis biasanya belum selesai dengan dirinya.”
Ia tertawa lagi, lalu tiba-tiba diam. “Setiap orang di kota ini menyimpan sesuatu dari Fanny. Entah marah, entah rindu, entah pelajaran yang belum sempat dirapikan.”
“Kau sendiri?”
“Aku?” Ia menengadah, seolah jawaban ada di langit-langit seng. “Aku menyimpan hutang rokok dan beberapa percakapan.”
Ia duduk bersila di lantai. Sore di luar mulai turun menjadi keemasan.
“Fanny pernah bilang padaku,” ujarnya, “bahwa manusia paling sering salah paham pada bebannya sendiri. Mereka mengira yang memberatkan adalah nasib, padahal sering kali yang memberatkan adalah penolakan.”
“Penolakan terhadap apa?”
“Terhadap kenyataan bahwa hidup tak pernah dibangun untuk menyenangkan satu orang saja.”
Aku diam.
“Kau terlihat capek,” katanya.
“Mungkin.”
“Bagus.”
Aku mengerutkan dahi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: