Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa
Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-
Kalimat itu jatuh perlahan, namun dalam.
Sebelum aku pergi, ia menepuk tasku. “Salam dari Fanny itu cuma pintu. Yang berat bukan suratnya. Yang berat adalah setelah ini kau tak bisa lagi pura-pura tidak tahu bahwa hidup orang lain ikut mengubah hidupmu.”
********
Malam terakhirku di Karangjati, aku kembali ke warung Pak Lukman. Hujan tipis turun, membuat lampu terminal memantul di genangan. Sopir-sopir duduk melingkar sambil merokok. Seorang ibu menjual pisang goreng yang baru diangkat dari minyak. Di kejauhan, sungai terdengar seperti seseorang yang berbicara dalam tidur.
Pak Lukman sedang mengelap meja.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
Ia menuang kopi tanpa bertanya lagi. Seolah beberapa hal tak perlu dijelaskan dua kali.
“Apa yang kau dapat?” tanyanya akhirnya.
Aku memandang uap kopi yang naik. “Bahwa hidup ini berat.”
Pak Lukman tertawa kecil. “Itu baru setengah.”
“Setengah lainnya?”
“Bahwa berat itu tak selalu harus dibuang. Kadang cukup dibagi. Kadang cukup diakui.”
Ia duduk di hadapanku. “Orang-orang kota besar sering berpikir keselamatan datang dari kecepatan: segera selesai, segera sembuh, segera lupa. Di kota kecil kami tahu sesuatu yang lebih lambat: ada hal-hal yang tidak selesai, tidak sembuh, tidak lupa, tetapi tetap bisa dibawa dengan cara yang lebih manusiawi.”
Hujan makin rapat. Seorang kernet berteriak memanggil penumpang bus malam.
Pak Lukman menatap ke arah suara itu, lalu berkata, “Dalam tasawuf, orang bicara tentang perjalanan menuju Tuhan. Tapi sebelum itu, manusia sering kali harus belajar satu hal yang lebih dekat: perjalanan menuju sesama. Sebab kadang Tuhan menyembunyikan pelajaran-Nya dalam wajah orang lain.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: