Di Ujung Nada Dering yang Tak Pernah Datang
Ilustrasi Cerpen Karya Ahmad Sihabudin-Ilustrasi by AI-
Cerpen Karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Malam turun perlahan di kota kecil itu, seperti tirai yang ditarik pelan oleh tangan tak terlihat. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang lembap. Di sebuah rumah kontrakan tua di sudut gang, Bima duduk di dekat meja kayu kecil. Di atas meja itu terletak sebuah telepon rumah berwarna krem, benda yang bagi orang lain mungkin hanya peralatan biasa, tetapi bagi Bima, malam itu, ia adalah pusat dari seluruh semesta harapan.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit.
Bima menatap telepon itu seolah ia bisa memaksanya berbunyi hanya dengan menatapnya cukup lama. Kadang-kadang ia mengangkat gagang telepon, mendengarkan nada sambung yang datar, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati. Tidak ada pesan. Tidak ada suara. Hanya dengung listrik yang tipis, seperti napas mesin yang tak punya perasaan.
Ia menghela napas.
“Hello… bagaimana kabarmu sekarang?” gumamnya pelan, seolah sedang berbicara kepada seseorang yang duduk di seberangnya.
Padahal ruangan itu kosong.
Sejak tiga bulan lalu, rumah kontrakan itu memang selalu terasa kosong. Bukan karena perabotnya sedikit, tetapi karena seseorang yang dulu sering tertawa di sana sudah tidak ada lagi.
Namanya Larasati.
*******
Bima mengenal Larasati di stasiun kereta kota itu dua tahun yang lalu. Saat itu hujan turun deras, dan semua orang berdesakan di bawah atap peron yang sempit. Larasati berdiri di dekatnya sambil memegang buku yang sudah basah di pinggirannya.
“Kereta sering terlambat kalau hujan,” kata Bima saat itu, mencoba memulai percakapan.
Larasati menoleh dan tersenyum kecil.
“Sepertinya kereta juga tidak suka hujan.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: