Trotoar yang Tidak Pernah Pulang

Trotoar yang Tidak Pernah Pulang

Cerpen karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

Hujan turun seperti sesuatu yang sudah terlalu lelah untuk marah. Ia jatuh pelan, nyaris tanpa suara, hanya meninggalkan bekas basah di trotoar yang retak—seperti ingatan yang tak pernah benar-benar sembuh.

Di bawah lampu jalan yang berkedip malas, seorang lelaki tua duduk bersandar pada dinding toko yang telah lama tutup. Jaketnya compang-camping, sepatunya seolah sudah menyerah pada bentuk kaki yang tak lagi peduli. Orang-orang lewat. Cepat. Sibuk. Seperti dunia yang sedang dikejar sesuatu yang bahkan ia sendiri lupa apa.

Namanya tak lagi penting. Tapi dulu, orang memanggilnya Rahman.

Seorang pemuda berhenti di depannya. Tidak karena iba. Lebih karena rasa penasaran yang tidak ia akui.

“Pak…” katanya ragu. “Kenapa Bapak masih di sini? Maksud saya… di jalan seperti ini.”

Rahman mengangkat kepala perlahan. Matanya merah, bukan hanya karena usia, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lama mengendap.

“Di mana lagi orang seperti saya seharusnya berada?” suaranya serak, tapi tidak lemah.

Pemuda itu terdiam sejenak. “Ya… saya kira… mungkin ada tempat penampungan? Atau keluarga?”

Rahman tersenyum. Bukan senyum hangat. Lebih seperti ironi yang sudah terlalu sering diulang.

“Kamu percaya tempat itu menyelamatkan manusia?”

Pemuda itu mengerutkan kening. “Bukankah itu tujuannya?”

Rahman menatap jalanan. Air hujan mengalir membawa debu dan sampah, menyatu tanpa pilih kasih.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: