Deadline Adalah Cinta: Cara Dosen Menyayangi Kami
Ilustrasi Cerpen karya Ahmad Sihabudin-Istock.com-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Di kampus kami Universitas Alam Raya, ada satu hukum tak tertulis yang diwariskan turun-temurun, lebih sakral dari buku pedoman akademik, lebih dihafal daripada visi-misi universitas: jika dosen berkata “ini demi kebaikan kalian,” maka bersiaplah untuk menderita.
Nama dosen itu Pak Sugandhi. Tapi mahasiswa lebih mengenalnya dengan sebutan yang penuh kasih, The Guardian of Suffering, atau dalam bahasa lokal yang lebih membumi: dosen killer.
Tidak ada yang benar-benar tahu sejak kapan julukan itu muncul. Ada yang bilang sejak angkatan 2012, ada juga yang bersumpah sudah ada sejak zaman mahasiswa masih pakai map plastik warna-warni dan modem USB jadi benda sakral. Tapi satu hal pasti: legenda Pak Sugandhi hidup, tumbuh, dan berkembang seperti utang mahasiswa, tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk.
********
Hari pertama masuk kelasnya selalu dimulai dengan ritual yang sama.
Pak Sugandhi berdiri di depan kelas, wajahnya datar seperti tembok yang sudah lama tidak dicat ulang. Ia menatap kami satu per satu, seolah sedang menilai siapa yang layak lulus dan siapa yang sebaiknya mulai mencari usaha sampingan.
“Selamat datang di mata kuliah ini,” katanya pelan, tapi entah kenapa terdengar seperti ancaman.
Kami diam. Bahkan kipas angin pun seperti ikut menahan napas.
“Saya tidak suka mahasiswa malas,” lanjutnya.
Ada yang langsung menunduk. Ada yang tiba-tiba merasa dirinya rajin, padahal semalam baru selesai nonton serial sampai subuh.
“Tapi tenang saja,” katanya lagi, kali ini sedikit tersenyum. Senyum yang tidak menenangkan, justru menegangkan. “Semua yang saya lakukan… demi kebaikan kalian.”
Kalimat itu jatuh seperti palu sidang. Tok.
Di bangku belakang, Rian berbisik, “Innalillahi.”
********
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: