Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-

Ia tersenyum kecil. Bukan senyum gembira, lebih seperti seseorang yang mengenali kebiasaan lama. “Ya, itu Fanny. Datang tanpa aba-aba, pergi tanpa penjelasan, dan kalau mengirim pesan selalu pendek seperti utang yang belum lunas.”

Aku diam. Ia menyesap tehnya pelan.

“Kamu kenal dia dekat?”

“Tidak juga.”

“Lalu kenapa kamu datang?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatku ragu pada jawaban sendiri. Aku menatap sungai di luar jendela. “Mungkin karena saya sedang tidak tahu ke mana harus pergi.”

Bu Musa mengangguk, seolah jawaban itu masuk akal. “Orang-orang yang paling jauh perjalanannya justru sering berangkat dari kebingungan.”

Ia terdiam lama sebelum melanjutkan, “Dulu saya marah sekali pada Fanny.”

Suaranya tidak meninggi, tidak juga bergetar. Justru datar seperti orang yang telah terlalu sering mengulang sebuah kenyataan sampai ia kehilangan tenaga untuk membencinya.

“Kami pernah dekat. Sangat dekat. Ia tahu rumah saya, tahu suara saya waktu menangis, tahu kebiasaan saya kalau sedang cemas. Tapi justru orang-orang yang tahu jalan ke hati kita itulah yang paling mudah melukainya.”

Ia menatap sungai. Angin pagi bergerak tipis pada tirai.

“Saya menyimpan marah bertahun-tahun. Saya kira marah itu memberi saya bentuk. Ternyata ia hanya membuat saya keras.”

Aku masih diam. Dalam percakapan seperti itu, kata-kata yang terlalu cepat hanya akan merusak.

“Suatu waktu,” katanya, “saya membaca Imam al-Ghazali. Ia menulis bahwa hati manusia itu seperti cermin. Kalau permukaannya tertutup debu, ia tak akan memantulkan apa pun selain kusam dirinya sendiri. Saya lama berpikir: debu apa yang paling melekat? Ternyata dendam.”

Ia menoleh padaku. “Kamu pernah benci seseorang?”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: