Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-

Aku menoleh. Ia tidak lagi melihatku, melainkan menatap sungai.

********

Dari rumah Bu Musa, aku kembali ke pasar. Menjelang siang, Karangjati terasa lebih hidup. Becak lalu-lalang. Pedagang ikan meneriakkan harga. Anak-anak sekolah pulang dengan seragam kusut dan tawa yang memantul di dinding toko-toko. Aku bertanya pada penjual rokok tentang Carmen. Ia menunjuk ke arah deretan warung dekat panggung hiburan pasar malam.

“Yang jaga warung kopi-merangkap-karaoke itu.”

Warungnya lebih ramai menjelang malam, kata orang. Namun siang itu sudah ada beberapa lelaki duduk di bangku panjang, minum kopi sambil bermain kartu. Dari radio terdengar lagu lama campursari yang suaranya pecah.

Carmen duduk di belakang meja kasir. Usianya sulit ditebak, tidak muda, tapi masih menyimpan sisa-sisa ketampanan masa lalu pada garis wajahnya. Rambutnya disanggul asal, tangannya cekatan menghitung uang kembalian.

“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.

“Aku membawa salam dari Fanny.”

Ia berhenti menghitung. Matanya naik menatapku. Ada keheningan tipis yang singgah sejenak di wajahnya, lalu hilang.

“Fanny,” ulangnya, seperti sedang mencoba rasa sebuah nama yang lama tidak disebut.

Ia menunjuk bangku di sudut. “Duduklah.”

Ia membuatkan kopi sendiri, lalu duduk di depanku. “Sudah lama sekali,” katanya.

“Kau mengenalnya dekat?”

Ia mengangkat bahu sedikit. “Cukup dekat untuk pernah merasa ditinggal, cukup jauh untuk tak berhak meminta penjelasan.”

Aku menunggu.

“Dulu kami pernah bepergian bersama. Bukan sebagai kekasih yang sah, bukan juga sebagai teman yang rapi. Hidup jarang memberi nama yang tepat untuk hubungan manusia. Kami hanya berjalan dalam ruas waktu yang sama.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: