Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-

“Orang yang tidak capek biasanya masih sibuk pura-pura kuat.” Ia tersenyum, lalu meraih sebuah buku dari tumpukan di dekat dinding. “Kau tahu Shams Tabrizi?”

“Guru Rumi.”

“Nah. Ada satu gagasan yang kusukai dari para pengembara jiwa macam mereka: bahwa apa yang kau cari sebenarnya sedang mencarimu. Waktu muda aku pikir itu kalimat puitis buat orang patah hati. Setelah tua, aku sadar itu kalimat yang berbahaya. Sebab artinya kita tak bisa terus-menerus kabur.”

Ia menatapku langsung. “Kau datang ke Karangjati bukan untuk tiga nama itu.”

“Lalu?”

“Untuk dirimu sendiri yang selama ini belum sempat kau temui.”

Aku ingin tertawa menolak, tapi sesuatu di dalam diriku justru terdiam.

Cester melanjutkan, “Bu Musa memberimu wajah pengampunan. Carmen memberimu wajah pelepasan. Aku, kalau boleh sombong sedikit, memberi wajah kegilaan yang waras.”

“Maksudnya?”

“Bahwa hidup tidak harus dipahami dulu untuk dijalani. Kadang ia cukup diterima seperti sungai menerima daun, bangkai ayam, perahu, anak-anak yang berenang, juga doa orang miskin.”

Ia mematikan kretek di lantai semen.

“Orang menyebutku gila karena aku berhenti mengejar bentuk hidup yang rapi. Aku pernah punya keluarga. Pernah punya kerja tetap. Pernah ingin dianggap berhasil. Semua itu pergi sedikit demi sedikit. Mula-mula aku malu. Lalu aku sadar: malu hanya penting selama kita masih hidup berdasarkan mata orang lain.”

Senja makin tebal. Dari masjid di seberang sungai terdengar azan.

“Pulang itu apa, menurutmu?” tanyaku.

Cester tersenyum, kali ini tanpa lelucon. “Pulang adalah saat seseorang tak lagi bertengkar dengan takdirnya.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: