Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-

Pertanyaan itu muncul lagi, dan lagi-lagi aku tak bisa menjawabnya dengan mudah.

“Mungkin arah.”

Carmen menatapku lama, lalu tersenyum, seolah ia pernah melihat jawaban seperti itu pada wajah banyak orang. “Hati-hati dengan arah. Kadang kita mengira sedang mencari jalan, padahal sebenarnya kita sedang lari dari tempat yang menunggu kita pulang.”

Ia masuk sebentar ke ruang belakang, lalu membawa bungkusan kecil berisi rokok linting.

“Untuk di jalan,” katanya. “Bukan rokoknya yang penting. Tapi ingatan bahwa pernah ada satu siang di Karangjati ketika kau duduk mendengar cerita orang asing.”

Sebelum aku pergi, ia berkata tanpa melihatku, “Kalau kau bertemu Fanny, bilang aku tidak lagi marah. Juga tidak lagi menunggu.”

*********

Menjelang sore aku mencari nama terakhir: Cester Gila. Orang-orang menyebutnya begitu tanpa niat menghina, seperti nama itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Anak-anak kecil bahkan menyebutnya dengan nada akrab. Seorang tukang tambal ban menunjukkan arah ke gudang perahu di hilir sungai.

Gudang itu berdiri miring, beratap seng karatan, dengan beberapa perahu kayu terikat di tiang. Saat aku mendekat, terdengar seseorang bernyanyi fals sambil memukul-mukul ember.

Pintu terbuka sebelum sempat kuketuk.

“Kau kiriman siapa?” tanya lelaki berambut awut-awutan itu.

“Fanny.”

Ia tertawa keras sekali, sampai burung-burung di pohon sengon sebelah terbang berhamburan. “Tentu saja. Masuk!”

Di dalam gudang, ada jala, pelampung, kayu-kayu bekas, dan setumpuk buku yang tergeletak tak beraturan. Bau solar, lumpur, dan asap kretek bercampur jadi satu. Cester sendiri kurus, matanya tajam, wajahnya seperti wajah orang yang terlalu lama berteman dengan matahari dan tidur seadanya.

“Duduk. Di sini tidak ada kursi bagus. Yang ada cuma peti, perahu, dan pikiran yang belum beres.”

Aku duduk di peti kayu. Ia menyalakan kretek dan menyodorkan bungkusnya. Aku menolak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: