Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa
Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-
“Nama saya Lukman,” katanya.
Aku memperkenalkan diri. Ia mengangguk, lalu memandang tasku.
“Orang baru biasanya membawa dua hal,” katanya, “barang dan cerita.”
“Aku cuma bawa salam.”
Ia tertawa kecil, tanpa mengejek. “Nah, itu justru lebih berat.”
Aku menatapnya. “Kenapa?”
Pak Lukman menoleh ke luar, ke arah jalan yang mulai lengang. “Karena barang cuma menekan bahu. Salam menekan ingatan.”
Ia mengambil gelasnya sendiri, meniup permukaan kopi, lalu melanjutkan dengan suara pelan, “Kadang-kadang seseorang mengirim salam bukan untuk menyampaikan kabar, tetapi untuk membangunkan sesuatu yang selama ini sengaja ditidurkan.”
Aku tidak segera menjawab. Surat Fanny di saku tiba-tiba terasa lebih berat daripada ketika aku masih berada di dalam bus.
“Mas cari siapa di Karangjati?”
Aku menyebutkan nama yang pertama: Bu Musa.
Pak Lukman mengangguk pelan, seolah nama itu bukan nama asing baginya, melainkan bagian dari peta batin kota kecil ini. “Rumahnya di tepi sungai. Besok pagi cari jalan ke belakang pasar, terus ikut gang bambu. Ada jembatan kecil. Rumahnya yang berdinding papan hijau.”
Lalu ia terdiam sejenak, seakan sedang menimbang apakah ia perlu mengatakan hal lain.
“Ada kalanya,” katanya kemudian, “orang datang ke suatu tempat untuk mengantar pesan, tapi yang sebenarnya ia temukan adalah dirinya sendiri. Orang-orang tua mengatakannya dengan bahasa sederhana. Para sufi mengatakannya dengan bahasa yang lebih indah.”
Aku menunggu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: