Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat
Ilustrasi Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Kami sudah berjalan hampir satu jam menyusuri garis pantai Tuban saat langit berubah menjadi warna yang sulit dijelaskan, bukan jingga, bukan kelabu, lebih seperti cat air yang sengaja diencerkan hingga bentuknya nyaris hilang. Dari kejauhan, kapal-kapal nelayan mengapung seperti bayangan malam yang datang terlalu cepat.
Laila berjalan setengah langkah di depanku. Seperti biasa, ia tidak pernah benar-benar menunggu, namun juga tak pernah meninggalkanku. Gerakannya tenang, sesekali menendang pasir, sesekali menatap ombak yang tampak seperti lembaran kain kusut.
“Aneh, ya,” katanya sambil menyapu rambutnya yang tertiup angin, “warna laut di sini makin hari makin pucat. Seolah-olah seseorang sengaja memutihkan dunia sedikit demi sedikit.”
Aku tersenyum kecil. “Kau bicara seperti pelukis yang sedang marah pada kuasnya.”
“Bukan pelukis,” ia menggeleng perlahan. “Hanya seseorang yang sudah lama lupa bagaimana rasanya warna.”
Ia berkata demikian dengan nada ringan, namun aku bisa menangkap lapisan-lapisan getir di baliknya. Laila selalu begitu: ia menyampaikan rasa sakit seperti orang yang menaburkan gula di atas luka, seakan berharap dunia tidak memperhatikannya terlalu jelas.
Kami berhenti di sebuah kapal tua yang terbalik di tepi pantai. Cat birunya mengelupas seperti sisik ikan yang kehabisan kilau. Laila membelai papan kayu yang kasar itu.
“Kau pulang untuk tinggal?” tanyaku, akhirnya.
Ia tidak langsung menjawab. Angin laut menggoyangkan ujung bajunya, membuatnya tampak seolah ia sedang melayang sebentar sebelum kembali menyentuh bumi.
“Kau bertanya seperti orang yang percaya pada kepastian,” katanya sambil tersenyum samar. “Padahal, pulang pun bisa berarti banyak.”
Aku menoleh padanya. “Misalnya?”
“Misalnya… pulang untuk mencari warna yang hilang.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: