Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Ilustrasi Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Warung kopi dekat dermaga. Lampu kuning yang menggantung setengah mati. Aroma kopi hitam yang terlalu pahit. Kipas angin tua yang berdecit seperti mengeluh tiap lima detik.

Dan Laila, dengan tas ransel lusuhnya, berkata:

“Aku hanya pergi sebentar. Beberapa bulan.”

Beberapa bulan yang berubah menjadi bertahun-tahun.

Laila kini tersenyum kecil, hampir malu. “Aku bahkan tidak sempat mengucap selamat tinggal yang benar. Aku pergi begitu saja.”

“Kau punya alasan,” kataku lembut.

“Alasan adalah hal paling mudah ditemukan,” balasnya. “Yang sulit adalah mengakui bahwa aku pergi karena takut.”

“Takut pada apa?”

“Takut bahwa jika aku tinggal, aku benar-benar ingin menetap… di sini…” Ia menatapku lebih lama dari biasanya. “…bersamamu.”

Angin mendadak terasa lebih dingin. Aku ingin mengatakan sesuatu, apa pun, tapi kata-kata seperti menguap dari tenggorokan.

Laila kemudian menatap laut lagi, seolah keheningan adalah jawaban yang sudah ia duga.

*******

Adzan Maghrib merayap dari arah kampung. Suaranya pecah oleh mikrofon yang sedikit rusak, namun tetap merasuk. Suara itu bergema di antara batang-batang cemara laut, menyentuh kapal-kapal nelayan yang bergoyang tenang.

Laila memejamkan mata.

“Aku selalu suka suara ini,” katanya. “Di kota, adzan seperti berlomba dengan klakson. Di sini… rasanya seperti seseorang sedang memanggilku pulang.”

Aku memandang wajahnya yang diterangi cahaya yang semakin samar. Ada sesuatu yang berubah pada Laila, lebih lembut, lebih rapuh, dan juga lebih kuat, entah bagaimana.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: