Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Ilustrasi Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Kami berhenti di depan warung kopi tua itu—lampunya masih sama redup, kipas anginnya masih berdecit, seolah waktu sengaja menahan napas di tempat ini.

“Besok pagi,” kata Laila, “aku ingin melihat matahari terbit dari pantai ini.”

“Kau ingin aku menemanimu?” tanyaku.

Ia tersenyum. “Kali ini… aku tidak bertanya apakah kau ingin. Aku ingin.”

Dan entah mengapa, malam yang kelabu itu mendadak terasa penuh warna yang tak bisa dijelaskan. Bukan warna terang yang mencolok, melainkan warna lembut yang tumbuh pelan, seperti hati yang belajar mencintai kembali.

Di antara lampu redup, suara ombak, dan aroma kopi yang terlalu pahit, aku menyadari bahwa dunia yang memucat ini mulai mendapatkan cahayanya kembali.

Bukan dari matahari.

Tapi dari seseorang yang akhirnya pulang.

Seseorang bernama Laila.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: