Mata Pelangi di Ujung Musim
Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Mata Pelangi di Ujung Musim-AI-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
INFORADAR.ID - Hujan turun perlahan di kota kecil itu, seperti ragu-ragu. Tidak deras, tidak juga berhenti. Di bawah kanopi tua terminal bus, lelaki itu berdiri dengan jaket abu-abu yang mulai pudar. Usianya sudah melewati separuh hidup, rambutnya memutih di pelipis, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar menua: penantian.
Ia datang bukan untuk pergi, melainkan untuk mengenang.
Terminal itu tak banyak berubah sejak dua puluh lima tahun lalu. Bangku kayu panjang masih berderit jika diduduki. Bau solar, tanah basah, dan kopi hitam dari warung ujung peron bercampur menjadi aroma khas yang hanya dimiliki tempat-tempat perpisahan. Di sinilah dulu ia pertama kali melihat mata itu, mata yang tidak sekadar hitam atau cokelat, melainkan seperti menyimpan warna lain yang tak bisa disebutkan.
Mata pelangi, begitu ia menamainya dalam hati.
Waktu itu, mereka masih muda. Dunia terasa lebih lapang, dan kesedihan belum menemukan bahasa paling kejamnya.
Ia ingat jelas hari itu. Hujan juga turun, hampir sama seperti sekarang. Perempuan itu berdiri di peron dua, memeluk tas kain lusuh berisi buku-buku dan pakaian sederhana. Rambutnya terikat longgar, beberapa helai jatuh ke kening. Ketika mereka saling berpandangan, waktu seperti melambat bukan berhenti, hanya cukup lambat untuk membuat detak jantung terasa lebih keras.
“Aku harus pergi,” kata perempuan itu pelan, seolah takut kata-katanya pecah jika diucapkan terlalu keras.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Tidak tahu.”
Jawaban yang paling jujur sering kali juga yang paling menyakitkan.
Mereka tidak berpelukan. Tidak ada janji berlebihan. Hanya diam yang panjang, dan tatapan yang menyimpan ribuan kata yang tak pernah mendapat izin untuk lahir. Di dalam mata perempuan itu, ia melihat warna-warna aneh: biru kerinduan, hijau harapan, merah luka yang belum sembuh, dan ungu keikhlasan yang terlalu dini untuk dipahami.
Sejak hari itu, hidup berjalan sebagaimana mestinya atau setidaknya terlihat demikian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
