Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat
Ilustrasi Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Aku membeku sesaat. Laila jarang berbicara sejujur ini. Biasanya kalimatnya berputar-putar seperti angin yang tak mau diam.
Aku mendekat. “Laila… aku sudah di sini sejak dulu.”
Ia menunduk, lalu tertawa seperti seseorang yang baru sadar akan hal yang seharusnya sederhana.
“Ya,” katanya pelan. “Dan itu justru membuatku lebih takut.”
“Tapi kau kembali juga.”
“Karena aku lelah memudar.”
Angin mengangkat sebagian rambutnya. Tanpa berpikir panjang, aku merapikannya dari pipinya. Tangannya menyentuh tanganku, ringan, namun membuat jantungku seakan roboh pelan.
“Jika aku menetap,” katanya, “apakah warnaku akan kembali?”
“Jika tidak,” jawabku, “kita cari bersama.”
Laila menatapku lama. Mata itu, yang dulu menyala seperti pagi, kini lebih redup, tiba-tiba memantulkan cahaya malam yang tenang.
Ia tersenyum. “Kau bicara seperti seseorang yang tahu cara memperbaiki dunia.”
“Tidak,” kataku. “Tapi aku tahu cara menjaga seseorang.”
*******
Kami duduk di pasir. Ombak datang dan pergi dengan cara yang sama seperti kenangan, ada yang membawa sesuatu, ada yang mengambil tanpa permisi. Langit memucat total kini, menyisakan garis samar bintang-bintang yang mulai muncul.
“Kau tahu,” kata Laila, “aku selalu merasa hidupku seperti lagu itu.”
“Lagu yang dari tadi dilatih di balai desa?” godaku.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: