Ritual Senja di Pasar yang Tak Ada

Ritual Senja di Pasar yang Tak Ada

Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin-Ilustrasi by AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

Di ujung musim angin timur, ketika laut berwarna abu-abu dan langit seperti menahan hujan yang tak jadi turun, ada sebuah pasar yang hanya muncul setahun sekali. Orang-orang menyebutnya Pasar Kramat Watu, pasar yang berdiri di antara dunia yang tampak, dan yang diingat.

Tak semua orang bisa menemukannya.

Hanya mereka yang membawa rindu.

********

Darma pertama kali mendengar tentang pasar itu dari neneknya, saat ia masih kecil dan belum mengenal arti kehilangan.

“Kalau kau punya sesuatu yang belum selesai,” kata sang nenek, sambil menumbuk daun-daunan di lesung kayu, “datanglah ke  Kramat Watu. Tapi ingat, tidak semua yang kau minta bisa kau bawa pulang.”

“Kenapa, Nek?”

“Karena sebagian permintaan,” jawabnya pelan, “memang tidak diciptakan untuk dipenuhi.”

Waktu itu Darma hanya tertawa. Ia belum tahu bahwa suatu hari ia akan berjalan jauh hanya untuk memahami kalimat itu.

********

Bertahun-tahun kemudian, Darma berdiri di tepian pantai yang sepi, membawa sebuah kain lusuh dalam tasnya. Kain itu milik seseorang yang tak pernah benar-benar pergi, tapi juga tak pernah kembali.

Namanya Ratih.

Ia meninggalkan desa pada suatu musim hujan, tanpa pamit, hanya meninggalkan pesan samar: “Jika kau ingin bertemu lagi, carilah aku di tempat yang tidak bisa kau capai.”

Darma menunggu. Hari demi hari, musim demi musim. Hingga menunggu berubah menjadi beban yang tak lagi bisa ia letakkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: