Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Ilustrasi Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Ia terkekeh. “Bukan. Lagu lama yang kau putar dulu di warung kopi itu… yang liriknya tidak sepenuhnya bisa kita terjemahkan.”

“Yang melodinya seperti berjalan di kabut?”

“Ya. Lagu itu.”

Ia menatap kosong ke laut. “Setiap kali mendengarnya, aku merasa seperti sedang berdansa dengan bayanganku sendiri. Indah, tapi juga menakutkan.”

Aku mengangguk. “Karena bayangan tahu terlalu banyak.”

Laila tersenyum. “Dan malam ini… aku tidak mau berdansa dengan bayanganku saja.”

Ia meraih tanganku. Perlahan, tapi pasti.

*******

Saat malam akhirnya menelan seluruh garis cakrawala, sesuatu berubah. Laut yang tadinya pucat memantulkan cahaya dari lampu balai desa yang tak seberapa terang, namun cukup untuk memberi warna keperakan pada ombak.

“Lihat,” kataku. “Warnanya kembali.”

“Sedikit,” Laila menyahut. “Tapi cukup.”

Kami berdiri, kembali berjalan menyusuri pantai menuju kampung. Tangan kami masih saling menggenggam. Tidak erat, namun cukup untuk membuat dunia yang memucat terasa hangat kembali.

Sesekali Laila menatap ke arahku, seakan memastikan aku tidak menghilang di antara kabut. Dan setiap kali aku membalas tatapannya, ia tersenyum seperti seseorang yang baru saja pulang dari perjalanan yang sangat panjang, dan akhirnya tahu ke mana harus kembali.

“Terima kasih,” katanya lirih. “Sudah menunggu dunia memucat bersamaku.”

“Aku tidak menunggu,” jawabku. “Aku hanya tetap di tempat yang sama.”

“Dan itu membuatku pulang.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: