Mantan Presiden dan Aura yang Tak Mau Pergi
Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Tetapi ada perbedaan besar antara kritik dan obsesi untuk merendahkan.
Kritik bertanya:
“Apa yang salah?”
Obsesi bertanya:
“Bagaimana caranya membuktikan bahwa dia selalu salah?”
Kritik mencari fakta.
Kebencian mencari pembenaran. Kritik masih membuka kemungkinan bahwa lawan politiknya pernah melakukan sesuatu yang benar. Kebencian bahkan akan gelisah kalau lawannya ternyata dipuji orang lain. Dan mungkin, justru di situlah sebagian orang mengalami masalah dengan Jokowi.
Mereka tidak terlalu terganggu oleh Jokowi sebagai mantan presiden. Mereka terganggu oleh kenyataan bahwa Jokowi masih dihormati setelah tidak lagi menjadi presiden.
Sebab kalau seseorang sudah tidak mempunyai kekuasaan formal tetapi masih didatangi, ditelepon, dihormati, dan diajak berbicara oleh tokoh-tokoh penting, maka ada satu fakta yang agak mengganggu teori kebencian: ternyata pengaruh tidak selalu tinggal di dalam kantor.
Dalam politik, jabatan memang penting. Tetapi jabatan bukan satu-satunya sumber pengaruh.
Ada reputasi. Ada rekam jejak. Ada jaringan hubungan. Ada pengalaman. Ada persepsi internasional. Ada kedekatan personal. Ada sejarah interaksi. Dan ada sesuatu yang sulit diukur dengan statistik: aura.
Aura kepresidenan bukan berarti seseorang masih memiliki kekuasaan konstitusional. Bukan berarti Jokowi masih memegang kendali pemerintahan. Bukan pula berarti semua kebijakannya harus dianggap benar.
Aura kepresidenan hanyalah pengakuan bahwa pernah ada seseorang yang memimpin negara selama sepuluh tahun dan pengalaman tersebut tidak otomatis menguap pada hari terakhir masa jabatannya.
Seorang mantan presiden tetap membawa sejarahnya. Tetap membawa jejaringnya. Tetap membawa pengalaman diplomatiknya. Tetap membawa hubungan personal dengan pemimpin negara lain.
Dan, suka atau tidak suka, tetap membawa nama negaranya ke mana pun ia pergi. Itulah sebabnya seorang mantan presiden bisa saja duduk di ruang tamu rumahnya di Solo, sementara seorang perdana menteri negara lain datang menemuinya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: