Artis Bernama Kepala Daerah

Artis Bernama Kepala Daerah

Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Oleh Ahmad Sihabudin Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

Pada mulanya, seorang kepala daerah hanya dikenal oleh staf protokolnya, ajudannya, dan mungkin beberapa wartawan lokal yang rajin menghadiri konferensi pers. Namun zaman telah berubah. Kini, sebagian kepala daerah disambut layaknya bintang film, pemain sepak bola, atau penyanyi yang baru turun dari panggung konser.

Fenomena itu tampak ketika Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, menghadiri Pekan Nasional Petani Nelayan di Gorontalo. Warga berbondong-bondong ingin melihatnya. Nama beliau diteriakkan. Swafoto menjadi rebutan. Bahkan ketika Presiden menyebut namanya, sorak-sorai lebih dulu menggema sebelum kalimat selesai diucapkan.

Pemandangan seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Di Jawa Barat, misalnya, publik pernah menyaksikan bagaimana Kang Dedi Mulyadi menjadi magnet perhatian masyarakat. Ke mana ia pergi, orang berkumpul. Kontennya ditonton jutaan kali. Ucapannya dikutip. Tindakannya menjadi bahan perbincangan.

Pertanyaannya bukan mengapa rakyat menyukai pemimpinnya. Itu justru kabar baik. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang harus dilakukan seorang pemimpin ketika ia mulai diperlakukan seperti selebritas?

Karena sejarah manusia mengajarkan satu hal: tepuk tangan bisa menjadi vitamin, tetapi jika berlebihan dapat berubah menjadi narkotika.

Filsuf Yunani kuno, Plato, pernah mengingatkan bahwa pujian sering kali lebih berbahaya daripada kritik. Kritik membuat seseorang bercermin. Sebaliknya, pujian yang berlebihan membuat seseorang jatuh cinta pada bayangannya sendiri.

Masalahnya, rakyat memang senang memberi pujian kepada pemimpin yang bekerja.

Jika jalan yang puluhan tahun berlubang akhirnya mulus, warga akan berterima kasih. Jika jembatan yang mangkrak akhirnya selesai, warga akan memuji. Jika saluran irigasi berfungsi kembali, petani akan tersenyum. Jika pelayanan publik dipermudah, masyarakat akan mengacungkan jempol.

Semua itu wajar, yang tidak wajar adalah ketika seorang kepala daerah mulai mengira bahwa tepuk tangan itu diberikan kepada dirinya sebagai manusia, bukan kepada pekerjaannya sebagai pelayan publik.

Di sinilah jebakan pertama popularitas. Ada sebuah cerita tentang kaisar Romawi yang sedang melakukan parade kemenangan. Di belakang keretanya berdiri seorang budak yang bertugas membisikkan satu kalimat berulang-ulang: "Memento mori." Artinya: ingatlah bahwa engkau akan mati.

Agak menyeramkan memang. Bayangkan sedang dielu-elukan ribuan orang, tiba-tiba ada seseorang di belakang yang terus mengingatkan bahwa suatu hari kita akan menjadi penghuni liang kubur.

Namun orang Romawi memahami sesuatu yang sangat penting: kekuasaan membuat manusia mudah mabuk. Karena itu diperlukan seseorang yang mengingatkan bahwa semua kemegahan hanyalah pinjaman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: