“Mira.”
Bapak itu mengangguk seperti hakim yang baru saja memutuskan perkara penting.
“Cocok.”
Aku tertawa.
*********Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya.
Bahkan alarmku kaget.
Aku naik bus yang sama, duduk di kursi yang sama, atau setidaknya berusaha.
Dan di sana, di kursi nomor tujuh,
dia sudah menunggu.
Mira tersenyum.
Dan kali ini, aku tidak hanya berdiri mematung.
Aku berjalan mendekat, duduk di sampingnya, dan berkata:
“Buku yang kemarin, sudah selesai?”
Dia menggeleng.
“Belum. Tapi kayaknya ceritanya mulai menarik.”
Aku tersenyum.