Kota yang Kehilangan Air Mata
Artikel karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta -Ilustrasi by AI-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Ada yang tidur di hotel berbintang, ada yang tidur di emperan toko. Ada yang makan di restoran mewah, ada yang menunggu warung tutup demi mendapatkan sisa makanan. Ada yang mengeluh karena rumahnya terlalu sempit, ada pula yang tak pernah tahu malam ini harus tidur di mana.
Begitulah wajah kota-kota besar Indonesia. Gedung pencakar langit tumbuh menjulang, pusat perbelanjaan semakin megah, jalan-jalan dipenuhi kendaraan mahal, dan iklan kemakmuran terpampang di mana-mana. Tetapi di balik gemerlap itu, ada kehidupan lain yang berjalan dalam kesunyian: anak-anak jalanan, pengemis, pengamen, manusia berkostum badut, pemulung, dan mereka yang menggantungkan hidup pada kemurahan hati orang lain.
Mereka hadir di lampu merah, di persimpangan jalan, di depan pusat perbelanjaan, di terminal, di stasiun, bahkan di sekitar tempat ibadah. Mereka menjadi bagian dari pemandangan kota yang setiap hari kita lihat, tetapi belum tentu benar-benar kita perhatikan.
Kita melihat mereka, tetapi apakah kita sungguh-sungguh melihat penderitaan mereka?
Pertanyaan itulah yang seolah-olah mengalun dari spirit lagu Gelandangan karya Rhoma Irama, yang dirilis pada 1975. Lagu ini bukan sekadar ratapan tentang orang yang tidak memiliki rumah. Ia adalah potret manusia yang kehilangan kepastian hidup, sekaligus teguran terhadap masyarakat yang terlalu sibuk mengejar kemakmuran hingga lupa bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang berjuang sekadar untuk bertahan hidup.
Kota yang Gemerlap, Manusia yang Terlupakan
Kota selalu pandai memperlihatkan keberhasilannya. Gedung-gedung tinggi menjadi simbol kemajuan, jalan tol menjadi lambang pembangunan, dan pusat-pusat ekonomi menjadi kebanggaan. Namun, kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari seberapa tinggi bangunannya atau seberapa mahal kendaraan yang memenuhi jalanannya.
Kemajuan seharusnya juga diukur dari bagaimana kota memperlakukan manusia yang paling lemah.
Sebab, di bawah lampu-lampu lalu lintas yang menyala teratur, ada anak-anak yang berlari dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Mereka mengetuk kaca mobil, mengulurkan tangan, menyanyikan lagu dengan suara seadanya, atau mengenakan kostum badut yang membuat tubuh mereka berkeringat di bawah terik matahari.
Sebagian dari mereka mungkin masih berusia sekolah. Usia ketika anak-anak lain belajar membaca, bermain bersama teman, atau mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi bagi mereka, waktu justru dihitung dari jumlah uang yang berhasil dikumpulkan sebelum malam tiba.
Mereka tidak sedang mempelajari teori tentang kemiskinan. Mereka sedang menjalani kemiskinan itu sendiri. Kita bisa berdebat tentang pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, dan keberhasilan pembangunan. Namun, seorang anak yang harus bekerja di jalanan untuk membantu keluarganya tidak dapat diselesaikan hanya dengan angka dalam laporan pemerintah.
Ia membutuhkan kesempatan untuk belajar, perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi, makanan yang layak, serta lingkungan yang memungkinkan dirinya tumbuh sebagai anak-anak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: