Namanya ternyata sederhana: Mira.
Bukan Rani. Bukan Aureliana. Dan jelas bukan Wi-Fi Gratis.
Dia naik bus karena motornya sedang rusak. Aku naik bus karena… ya, hidupku memang seperti ini.
“Lucu ya,” katanya, “kita bisa ketemu orang asing di bus, terus tiba-tiba ngobrol kayak sudah kenal lama.”
Aku mengangguk.
“Iya. Kadang yang asing justru terasa lebih dekat.”
Dia menatapku sejenak. Ada sesuatu di matanya, entah penasaran, entah hanya refleksi cahaya pagi.
Bus melambat.
Halte berikutnya.
Dia berdiri.
Jantungku ikut berdiri.
“Kamu turun di sini?” tanyaku, berusaha terdengar santai padahal dalam hati sudah menulis surat perpisahan.
“Iya. Ini dekat tempat kerja saya.”
“Oh.”
Hanya itu yang bisa keluar.
Dia tersenyum.