Gadis di Kursi Nomor Tujuh

Senin 28-09-2026,13:02 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

Pagi itu, bus kota berjalan seperti biasa: tersengal, sedikit berisik, dan penuh kompromi antara manusia, tas belanja, dan ayam yang entah bagaimana selalu ada. Aku naik dari halte yang sama, dengan rutinitas yang sama, membawa tas lusuh, wajah setengah bangun, dan harapan yang tipis seperti sinyal Wi-Fi gratis.

Sampai kemudian, semuanya berubah di kursi nomor tujuh.

Aku tidak tahu sejak kapan dia ada di sana. Rasanya seperti dia muncul begitu saja, seperti ide skripsi yang datang lima menit sebelum deadline—tidak direncanakan, tapi langsung terasa penting.

Dia duduk dekat jendela. Rambutnya tertiup angin dari ventilasi bus yang setengah rusak. Tangannya memegang buku kecil, entah novel atau mungkin catatan hidup yang terlalu puitis untuk dimengerti orang biasa seperti aku.

Dan di situlah masalahnya dimulai.

Aku jatuh cinta.

Atau setidaknya, sesuatu yang sangat mirip dengan itu, versi ekonomisnya, mungkin.

*********

“Mas, maju dikit, Mas! Jangan bengong di situ!” teriak kondektur.

Aku tersentak. Ternyata sejak naik tadi, aku hanya berdiri di dekat pintu, menatap ke arah kursi nomor tujuh seperti patung yang kehabisan baterai.

Aku pun bergerak, berusaha terlihat normal. Tapi tentu saja, tidak ada yang normal dari seseorang yang baru saja jatuh cinta pada orang asing di dalam bus yang bahkan remnya berbunyi seperti kaset rusak.

Aku berdiri dua baris dari tempat duduknya. Cukup dekat untuk melihatnya dengan jelas, cukup jauh untuk berpura-pura tidak sedang mengamati.

“Tenang,” kataku dalam hati. “Ini cuma kekaguman sesaat. Biasa. Manusiawi.”

Lalu dia tersenyum.

Kategori :

Terkait

Senin 28-09-2026,13:02 WIB

Gadis di Kursi Nomor Tujuh

Senin 24-08-2026,14:48 WIB

Denny, Mau Apa Sebenarnya?