Dua halte lewat.
Tidak ada Mira.
Aku mulai gelisah. Bahkan bapak yang biasa jadi komentator hidupku ikut memperhatikan.
“Belum datang ya?” katanya.
Aku menggeleng.
“Biasanya kalau orang telat, ada dua kemungkinan,” lanjutnya bijak.
“Macet… atau jatuh cinta di tempat lain.”
Aku menatapnya ngeri.
“Pak, jangan nambah beban hidup saya.”
Bus terus berjalan.
Dan untuk pertama kalinya, perjalanan ini terasa… panjang dan agak menyedihkan.
*********Hari kedua.
Masih tidak ada Mira.
Hari ketiga.
Aku mulai curiga ini bukan sekadar kebetulan.
Hari keempat.