Ketika Kebencian Menggonggong

Ketika Kebencian Menggonggong

Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

Terinspirasi dari spirit lagu Led Zeppelin

Ada sesuatu yang menarik dari lagu Black Dog milik Led Zeppelin. Musiknya menghentak, ritmenya tidak biasa, dan vokal Robert Plant seperti orang yang sedang dikejar-kejar hasratnya sendiri. Lagu yang membuka album legendaris Led Zeppelin IV (1971) ini berbicara tentang daya tarik, gairah, dan hasrat yang sulit dikendalikan.

Saya jadi teringat pada sebagian orang dalam panggung politik kita. Mereka tampaknya memiliki satu kegemaran yang luar biasa: membicarakan Jokowi dan Gibran. Pagi, siang, malam. Seolah-olah hidup mereka belum lengkap kalau sehari saja tidak menemukan sesuatu untuk dipersoalkan dari kedua nama itu.

Kalau Led Zeppelin punya Black Dog, panggung politik kita rupanya punya Black Dog versi sendiri: anjing hitam yang bukan berkaki empat, melainkan berkepala prasangka, berekor kecurigaan, dan gemar menggonggong di media sosial.

Bedanya, anjing dalam cerita Led Zeppelin tidak pernah ikut konferensi pers. Sementara anjing-anjing politik kita—ini tentu metafora, jangan sampai ada yang merasa perlu menggonggong balik—kadang lebih rajin berkomentar daripada membaca persoalan sampai tuntas.

Jokowi dan Gibran: Dua Nama yang Sulit Keluar dari Kepala

Ada orang yang mengkritik karena ingin memperbaiki keadaan. Itu sehat bagi demokrasi. Kekuasaan memang harus diawasi, kebijakan boleh dipersoalkan, dan pejabat publik tidak boleh kebal terhadap kritik.

Tetapi ada pula gejala yang sedikit berbeda: kritik yang tampaknya sudah berubah menjadi pekerjaan tetap, bahkan mungkin menjadi hobi yang tidak mengenal hari libur.

Apa pun yang dilakukan Jokowi, selalu ada bahan untuk dipersoalkan. Apa pun yang dikatakan Gibran, selalu ada ruang untuk mencurigai. Kalau keduanya diam, diamnya dipersoalkan. Kalau berbicara, kata-katanya dibedah sampai ke koma. Kalau tersenyum, mungkin ada yang sibuk menafsirkan senyum itu sebagai strategi politik tingkat tinggi.

Kalau Gibran mengangkat alis, jangan-jangan besok ada seminar nasional bertajuk Hermeneutika Alis Wakil Presiden: Membaca Makna di Balik Gerakan Dua Sentimeter.

Pembicaranya lima orang, moderatornya profesor, diskusinya berlangsung tiga jam, tetapi kesimpulannya tetap: kita harus mengusut mengapa alis itu terangkat.

Lucu? Tentu. Tetapi begitulah politik ketika rasa tidak suka mulai mengalahkan akal sehat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: