Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa
Ilustrasi cerpen Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa-Ilustrasi by AI-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Bus antarkota itu tiba menjelang magrib, ketika langit Karangjati masih menyimpan warna jingga yang tipis dan bau aspal hangat bercampur dengan anyir sungai yang mengalir tidak jauh dari terminal. Dari jendela yang buram oleh debu jalan, kota kecil itu tampak seperti sesuatu yang setengah teringat: deret warung beratap seng, papan nama toko yang mulai pudar, becak yang diparkir miring di bawah pohon asam, dan orang-orang yang berjalan dengan langkah tanpa tergesa, seolah waktu di tempat itu tidak berlari, hanya beringsut pelan dari satu jam ke jam berikutnya.
Ketika bus berhenti, aku turun dengan tas ransel di pundak dan sebuah surat di saku kemeja. Surat itu sudah beberapa kali kubuka sepanjang perjalanan, tetapi isinya tetap sama-sama singkat dan sama-sama ganjil: Jika kau melewati Karangjati, tolong sampaikan salamku pada tiga orang. Mereka akan mengerti. Di bawahnya hanya ada tiga nama: Bu Musa, Carmen, dan Cester Gila.
Surat itu ditulis oleh Fanny. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mengenalnya baik. Kami pernah beberapa kali bertemu di kota-kota yang berlainan, dalam percakapan yang tidak pernah betul-betul selesai. Ia selalu datang seperti orang yang baru saja meninggalkan sesuatu, dan selalu pergi seperti orang yang tahu masih ada jalan lain yang harus ditempuh. Mungkin karena itulah aku tak pernah bertanya terlalu banyak. Ada orang-orang yang tak bisa kita pahami, tetapi justru karena itu kita menaruh percaya pada mereka.
Terminal Karangjati tidak besar. Hanya beberapa bangku panjang dari besi, loket yang kaca depannya retak di satu sudut, kios rokok, penjual gorengan, dan sebuah warung kopi yang berdiri di ujung peron, menghadap selokan besar yang menurun ke arah sungai. Lampu-lampu bohlam mulai menyala satu per satu. Suara azan magrib dari masjid dekat pasar melintas pelan di antara klakson angkot, suara kernet, dan derit roda troli.
Aku berjalan ke warung kopi itu karena di tempat asing, kopi selalu terasa seperti bentuk pertama dari keakraban.
Warung itu hanya berdinding separuh papan. Meja kayunya panjang, permukaannya hitam mengilap oleh tumpahan kopi dan usia. Di belakang meja, seorang lelaki tua dengan sarung kotak-kotak dan kopiah hitam sedang menuang air panas ke gelas kaca. Wajahnya kurus, matanya cekung namun teduh, seperti mata orang yang telah lama bergaul dengan malam.
“Baru datang, Mas?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Iya.”
“Dari mana?”
“Kota.” Jawaban itu terasa terlalu umum, tapi di kota kecil kadang orang tak butuh rincian untuk mengerti.
Ia tersenyum dan mendorong gelas kopi tubruk ke depanku. “Minum dulu. Orang yang baru turun dari bus biasanya belum benar-benar sampai. Badannya mungkin sudah, tapi pikirannya masih tertinggal di jalan.”
Aku menerima gelas itu. Kopinya pahit dan pekat, dengan ampas yang dibiarkan mengendap begitu saja di dasar. Di luar, langit kian gelap, dan suara jangkrik mulai terdengar dari rumpun semak di belakang terminal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: