Aku bahkan sudah hafal pola duduk penumpang lain. Termasuk ayam itu, yang ternyata bernama “Bambang” menurut pemiliknya. Hidupku jelas sedang kehilangan fokus.
“Mas,” kata bapak itu lagi, “cinta itu seperti bus.”
Aku menatapnya, setengah berharap dapat pencerahan.
“Kalau kelewatan… ya naik yang berikutnya.”
“Itu bukan bijak, Pak. Itu menyakitkan.”
*********Hari kelima.
Aku hampir menyerah.
Bus melaju seperti biasa. Aku duduk di kursi nomor tujuh, tapi rasanya seperti duduk di ruang tunggu harapan yang tidak dipanggil-panggil.
Sampai kemudian, bus berhenti mendadak.
Bukan halte.
Semua penumpang sedikit terhuyung.
“Ada apa ini?” terdengar suara kondektur.
Dari luar, terdengar suara seseorang berdebat dengan sopir.
Dan lalu, seorang perempuan naik dengan napas sedikit tersengal.
Rambutnya agak berantakan. Tangannya memegang tas dengan erat.
Mira.