Kota yang Kehilangan Air Mata

Kota yang Kehilangan Air Mata

Artikel karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta -Ilustrasi by AI-

Kita tidak perlu menganggap semua badut jalanan sebagai korban dengan cerita yang sama. Tetapi kita juga tidak semestinya menganggap mereka sekadar hiburan gratis di tengah kemacetan.

Topeng badut itu mengajarkan sesuatu tentang kehidupan sosial: tidak semua orang yang membuat orang lain tersenyum sedang menjalani kehidupan yang membahagiakan.

Ironisnya, kota sering lebih tertarik pada pertunjukan daripada nasib orang yang mempertunjukkannya. Kita menikmati hiburan sesaat, kemudian melanjutkan perjalanan, seolah-olah tidak ada persoalan apa pun yang tertinggal di belakang kendaraan kita.

Pengamen dan Suara yang Tak Selalu Didengar

Pengamen adalah bagian lain dari kehidupan kota. Mereka datang dari satu kendaraan ke kendaraan lain, dari warung ke warung, dari sudut terminal menuju persimpangan jalan. Ada yang membawa gitar, ada yang hanya berbekal suara, ada pula yang menggunakan alat musik sederhana.

Sebagian menyanyi dengan sungguh-sungguh. Sebagian mungkin sekadar berharap mendapatkan uang untuk membeli makanan. Di antara mereka, ada yang menjadikan musik sebagai jalan mencari nafkah, sementara yang lain terpaksa masuk ke jalanan karena terbatasnya pilihan hidup.

Kita bisa menyukai atau tidak menyukai nyanyian mereka. Kita boleh memberi atau tidak memberi uang. Namun, kita seharusnya tidak kehilangan kemampuan untuk memahami bahwa di balik suara yang terdengar sumbang sekalipun, ada manusia yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.

Bukankah musik pada dasarnya adalah bahasa manusia?

Tetapi, ironisnya, suara pengamen sering kali hanya dianggap sebagai gangguan. Kita menutup kaca mobil, memasang penyuara telinga, atau menatap layar telepon genggam agar tidak perlu berhadapan dengan kenyataan di luar.

Kita semakin mudah terhubung dengan dunia melalui teknologi, tetapi belum tentu semakin dekat dengan manusia yang berdiri hanya beberapa meter dari kita.

Barangkali inilah salah satu ironi kehidupan modern: komunikasi semakin canggih, tetapi empati justru dapat semakin sederhana.

Kemiskinan Bukan Sekadar Persoalan Uang

Ada kecenderungan melihat kemiskinan hanya sebagai persoalan penghasilan. Padahal, kemiskinan juga menyangkut kesempatan, pendidikan, kesehatan, keamanan, tempat tinggal, dan kemampuan seseorang untuk menentukan masa depannya sendiri.

Anak jalanan yang tidak mendapatkan pendidikan memadai berisiko menghadapi pilihan hidup yang semakin terbatas. Orang dewasa yang kehilangan pekerjaan dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Mereka yang hidup tanpa tempat tinggal menghadapi kerentanan terhadap penyakit, kekerasan, cuaca ekstrem, dan pengucilan sosial.

Kemiskinan dapat menjadi lingkaran yang sulit diputus. Seseorang kekurangan sumber daya untuk memperbaiki kehidupannya, lalu keadaan tersebut membuatnya semakin sulit mendapatkan sumber daya yang diperlukan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: