Kota yang Kehilangan Air Mata
Artikel karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta -Ilustrasi by AI-
Belas kasihan membuat kita memberi uang kepada anak jalanan. Keadilan menuntut agar anak itu mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa harus mencari nafkah di persimpangan.
Belas kasihan membuat kita merasa sedih melihat gelandangan tidur di emperan toko. Keadilan mendorong pemerintah dan masyarakat mencari jalan agar setiap orang memiliki akses terhadap tempat tinggal yang aman dan layak.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Kita tetap perlu menolong orang yang membutuhkan sekarang, sembari membangun sistem yang mengurangi kemungkinan penderitaan serupa terulang esok hari.
Di sinilah tanggung jawab pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi sosial, keluarga, dan masyarakat menjadi penting.
Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang melindungi kelompok rentan. Dunia usaha dapat membuka akses terhadap pekerjaan dan pelatihan keterampilan. Lembaga pendidikan dapat membantu anak-anak yang terancam putus sekolah. Organisasi sosial dapat memberikan pendampingan yang berkelanjutan.
Sementara itu, kita sebagai warga kota dapat memulai dari hal-hal sederhana: tidak merendahkan, tidak melakukan kekerasan, tidak mengeksploitasi, dan tidak memperlakukan kemiskinan sebagai bahan lelucon.
Sebab, manusia yang hari ini mengulurkan tangan meminta pertolongan tidak kehilangan martabatnya hanya karena ia sedang tidak memiliki apa-apa.
Kita Semua Sedang Diuji oleh Kota
Lagu Gelandangan mengajak kita melihat kehidupan dari sisi yang jarang mendapatkan panggung. Ia membawa perhatian kita kepada manusia yang sering hadir di depan mata, tetapi tidak selalu masuk ke dalam kesadaran.
Barangkali kita tidak dapat mengubah seluruh wajah kota dalam satu malam. Kita juga tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan kemiskinan hanya dengan beberapa lembar uang.
Namun, kita dapat mengubah cara memandang orang-orang yang hidup di pinggir jalan. Kita dapat berhenti menjadikan penderitaan mereka sebagai tontonan. Kita dapat mendukung kebijakan yang berpihak kepada kelompok rentan. Dan kita dapat menuntut agar pembangunan tidak hanya menghasilkan gedung-gedung megah, tetapi juga kehidupan yang lebih bermartabat.
Pada akhirnya, yang sedang diuji bukan hanya kemampuan orang miskin untuk bertahan hidup. Yang sedang diuji juga adalah nurani kita yang hidup berkecukupan.
Apakah kita masih mampu merasa terusik ketika melihat anak kecil bekerja di tengah lalu lintas? Apakah kita masih mau memikirkan nasib seorang pengamen setelah lagu terakhirnya selesai? Apakah kita masih bisa melihat manusia di balik kostum badut, pakaian lusuh, dan tangan yang terulur?
Ataukah kita sudah terlalu terbiasa sehingga penderitaan itu tidak lagi terasa sebagai persoalan?
Mungkin, yang paling menyedihkan bukan hanya ketika seseorang kehabisan air mata untuk menangisi nasibnya. Yang lebih menyedihkan adalah ketika masyarakat kehabisan kepedulian untuk memahami mengapa air mata itu jatuh.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: