Kota yang Kehilangan Air Mata

Kota yang Kehilangan Air Mata

Artikel karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta -Ilustrasi by AI-

Kota boleh terus tumbuh. Gedung boleh semakin tinggi. Jalan boleh semakin lebar. Ekonomi boleh semakin maju.

Tetapi, apa artinya semua itu jika di antara kemegahan tersebut masih ada anak-anak yang kehilangan masa kecilnya, orang dewasa yang kehilangan tempat berteduh, dan manusia-manusia yang harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi?

Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa banyak orang yang berhasil berdiri di puncak kesejahteraan, melainkan juga seberapa sungguh-sungguh bangsa itu berusaha agar mereka yang tertinggal tidak dibiarkan jatuh sendirian.

Kota yang manusiawi bukan kota tanpa orang miskin yang terlihat. Kota yang manusiawi adalah kota yang tidak membiarkan kemiskinan menjadi takdir bagi siapa pun.

Dan mungkin, itulah pesan paling dalam dari spirit Gelandangan: ketika kita mendengar keluh kesah manusia yang hidup di pinggir jalan, sesungguhnya kita sedang mendengar pertanyaan tentang diri kita sendiri, masihkah kita memiliki hati untuk sesama?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: