Di Ujung Nada Dering yang Tak Pernah Datang
Ilustrasi Cerpen Karya Ahmad Sihabudin-Ilustrasi by AI-
4*********
Menjelang tengah malam, hujan mulai turun pelan.
Tetesannya mengenai atap seng di belakang rumah, menciptakan irama yang lembut. Bima memejamkan mata sejenak. Hujan selalu membuatnya mengingat hari pertama ia bertemu Larasati di stasiun.
Kadang-kadang hidup terasa seperti lingkaran yang aneh. Hal-hal yang dulu membawa seseorang masuk ke hidupmu, suatu hari juga menjadi kenangan yang menandai kepergiannya.
Bima menatap telepon itu sekali lagi.
“Kalau kamu menelepon malam ini,” katanya pelan, “aku masih di sini.”
Ia tersenyum kecil, meskipun tidak ada yang melihat.
Waktu terus berjalan.
Jarum jam melewati pukul dua belas.
Telepon itu tetap diam.
Namun entah kenapa, Bima tidak merasa benar-benar marah. Tidak juga putus asa sepenuhnya. Yang ia rasakan hanyalah semacam ruang kosong yang luas, ruang di mana harapan dan kenyataan berdiri berhadapan tanpa saling menyentuh.
Di luar, hujan semakin deras.
Bima mematikan lampu ruang tamu, tetapi ia tidak memindahkan telepon itu. Ia membiarkannya tetap di atas meja, tepat di tempat yang sama.
Barangkali besok malam ia akan menunggu lagi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: