Di Ujung Nada Dering yang Tak Pernah Datang
Ilustrasi Cerpen Karya Ahmad Sihabudin-Ilustrasi by AI-
Senyum itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti cahaya yang tiba-tiba muncul di tengah hari yang mendung.
Sejak hari itu, percakapan kecil di peron berubah menjadi kebiasaan. Mereka mulai sering bertemu, berjalan menyusuri trotoar kota, minum kopi murah di warung kecil dekat kampus, dan berbicara tentang hal-hal yang kadang tidak penting, film lama, lagu-lagu dari radio, atau masa depan yang mereka bayangkan seperti lukisan yang belum selesai.
Bima selalu merasa waktu berjalan lebih lambat ketika bersama Larasati.
Namun seperti banyak kisah yang tampak sederhana di awalnya, hidup punya cara sendiri untuk merenggangkan jarak antara dua orang.
Larasati mendapat pekerjaan di kota lain.
“Tidak terlalu jauh,” katanya suatu sore. “Hanya dua jam perjalanan.”
Dua jam memang terdengar singkat. Tetapi bagi dua orang yang dulu bertemu hampir setiap hari, dua jam bisa berubah menjadi jarak yang sangat panjang.
Mereka berjanji akan tetap saling menelepon.
“Setiap malam kalau bisa,” kata Larasati sambil tertawa.
Bima mengangguk waktu itu. Ia tidak menyadari bahwa janji sederhana itu akan berubah menjadi sesuatu yang begitu berat.
********
Jarum jam bergerak pelan menuju pukul sepuluh.
Bima masih duduk di tempat yang sama. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Di luar, suara motor sesekali lewat di jalan kecil, lalu menghilang lagi dalam kesunyian.
Telepon itu tetap diam.
Bima mengingat malam-malam pertama setelah Larasati pindah. Telepon sering berdering waktu itu. Kadang mereka berbicara sampai tengah malam.
“Ceritakan sesuatu,” kata Larasati di seberang sana.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: