Gadis di Kursi Nomor Tujuh

Gadis di Kursi Nomor Tujuh

Ilustrasi cerpen Gadis di Kursi Nomor Tujuh-Ilustrasi by AI-

Lalu dia tersenyum.

Bukan ke aku. Ke luar jendela. Tapi tetap saja, senyum itu seperti sengaja diciptakan untuk menghancurkan konsentrasi manusia.

“Baik,” aku merevisi. “Ini bukan biasa. Ini masalah.”

********

Sepuluh menit berlalu.

Aku sudah membayangkan banyak hal.

Namanya mungkin sederhana, seperti Rani. Atau mungkin unik, seperti Aureliana. Atau mungkin sesuatu yang sangat filosofis, seperti… “Wi-Fi Gratis”, karena aku merasa terhubung tanpa tahu caranya.

Dia terlihat seperti tipe yang suka hujan tapi tidak suka kehujanan, yang minum kopi tapi hanya setengah gelas, yang membaca buku tapi kadang hanya untuk terlihat membaca.

Atau mungkin aku hanya mengarang terlalu jauh.

Seorang bapak di sampingku tiba-tiba menepuk bahuku.

“Mas, itu tasnya kebuka.”

Aku panik. Ternyata dari tadi resleting tasku terbuka, dan isinya catatan, pulpen, dan satu bungkus kerupuk terancam jatuh.

“Terima kasih, Pak,” kataku.

“Lagi mikirin apa, Mas? Kayak lagi jatuh cinta.”

Aku membeku.

“Enggak kok, Pak,” jawabku cepat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: