Sayembara Mencari Ijazah, atau Mencari Panggung?

Sayembara Mencari Ijazah, atau Mencari Panggung?

Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Jangan-jangan seseorang tanpa sadar telah menjadi tawanan dari kritiknya sendiri. Awalnya mengkritik karena merasa ada persoalan. Lama-lama karena sudah terlanjur mengkritik, semua yang dilakukan orang yang dikritik terlihat salah.

Akhirnya bukan lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran. Ini penyakit yang bisa menimpa siapa saja. Termasuk kita. Termasuk saya. Termasuk para akademisi. Termasuk para politisi. Termasuk para pendukung pemerintah. Dan termasuk para pembenci pemerintah.

Karena itu, sesekali kita perlu berhenti di depan cermin dan bertanya: “Saya ini sedang mencari kebenaran atau sedang mencari kemenangan?” Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawabannya bisa sangat menyakitkan. 

Kalau benar ada bukti kuat tentang pelanggaran hukum, silakan buka. Kalau benar ijazah bermasalah, buktikan. Kalau benar ada pelanggaran konstitusi, tempuh mekanisme konstitusional. Kalau benar ada alasan untuk memberhentikan wakil presiden, gunakan mekanisme yang tersedia.

Tetapi kalau semua itu belum terbukti, mungkin ada baiknya kita memberi ruang kepada pemerintahan untuk bekerja. Karena pemerintahan yang terus-menerus diganggu oleh perang opini juga tidak akan mudah bekerja.

Dan yang akhirnya membayar ongkos kegaduhan itu bukan Denny, bukan Gibran, bukan para komentator televisi, bukan pula para influencer. Yang membayar adalah rakyat.

Rakyat membutuhkan pemerintah yang bekerja. Bukan pemerintah yang setiap pagi harus sibuk menjawab tuduhan baru.

“Di mana kedewasaan politik kita?”  

Kita membutuhkan oposisi yang kritis, bukan oposisi yang kehabisan agenda lalu mencari-cari persoalan. Kita membutuhkan akademisi yang tajam, bukan akademisi yang menjadikan setiap perbedaan sebagai perang pribadi. Kita membutuhkan ahli hukum yang membawa masyarakat kepada hukum, bukan membawa hukum ke panggung keributan.

Dan kita membutuhkan media yang menguji fakta, bukan sekadar memperpanjang kegaduhan. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar bukan: “Di mana ijazah Gibran?”

Tetapi: “Di mana kedewasaan politik kita?” Ijazah dapat dicari. Dokumen dapat diperiksa. Bukti dapat diuji. Hukum dapat ditegakkan. Tetapi waktu pemerintahan yang terbuang karena kegaduhan tidak bisa dikembalikan.

Pilpres 2029 memang akan datang. Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk mempersiapkan perang 2029, kita lupa bahwa rakyat sedang hidup pada 2026.

Rakyat tidak makan janji Pilpres 2029. Rakyat membutuhkan pekerjaan hari ini. Rakyat membutuhkan pelayanan publik hari ini. Rakyat membutuhkan sekolah yang baik hari ini. Rakyat membutuhkan rumah sakit yang layak hari ini. Rakyat membutuhkan harga yang terjangkau hari ini. Karena itu, mari kita berhenti sebentar.

Yang salah kita kritik.Yang melanggar kita lawan. Yang terbukti bersalah kita proses. Tetapi yang belum terbukti, jangan dihukum dengan opini.

“Mencari Kebenaran, Atau Mencari Alasan Agar Seseorang Terus Tampak Salah”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: