Trotoar yang Tidak Pernah Pulang

Trotoar yang Tidak Pernah Pulang

Cerpen karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

“Karena kamu tidak benar-benar bertanya tentang saya. Kamu bertanya tentang dirimu sendiri, apakah kamu akan merasa bersalah kalau pergi.”

Pemuda itu terdiam. Kali ini lebih lama.

“Jawab saja,” kata Rahman.

Pemuda itu menatapnya. Dalam.

“Saya rasa… iya.”

Rahman mengangguk.

“Kalau begitu, pergilah.”

“Kenapa?”

“Karena rasa bersalah itu adalah tanda bahwa kamu masih hidup. Jangan hilangkan itu.”

Pemuda itu berdiri perlahan. Ia menatap Rahman sekali lagi.

“Pak… boleh saya kembali besok?”

Rahman tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap trotoar yang basah.

“Kalau kamu kembali,” katanya akhirnya, “datanglah bukan untuk menyelamatkan saya. Tapi untuk mendengarkan.”

Pemuda itu mengangguk.

Lalu ia pergi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: