Trotoar yang Tidak Pernah Pulang
Cerpen karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
“Tujuan,” katanya pelan, “adalah kata yang sering kita gunakan untuk menutupi kenyataan bahwa kita tidak tahu harus berbuat apa.”
Pemuda itu duduk di sampingnya, entah kenapa. Hujan makin deras, tapi percakapan terasa lebih penting daripada berteduh.
“Kalau begitu,” lanjut si pemuda, “apa yang membuat seseorang seperti Bapak… berakhir di sini?”
Rahman tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mencari sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama hilang.
“Dulu,” katanya akhirnya, “saya percaya pada dunia. Saya percaya kerja keras akan membawa arti. Saya percaya orang-orang saling peduli.”
Ia tertawa kecil. Hampa.
“Lalu saya sadar, dunia ini seperti pasar yang terlalu ramai. Semua orang berteriak, menawarkan diri, menjual makna. Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.”
Pemuda itu menunduk. Kata-kata itu terasa mengganggu, seperti kaca kecil di dalam sepatu.
“Tapi… kita kan butuh orang lain,” bantahnya. “Manusia makhluk sosial.”
Rahman menoleh, matanya tajam.
“Ya. Tapi kita lupa satu hal, kita butuh makna dari orang lain, bukan sekadar keberadaan mereka.”
“Bedanya?”
“Keberadaan bisa pura-pura. Makna tidak.”
Hening sejenak. Hanya suara hujan dan kendaraan yang melintas.
“Menurut Bapak,” tanya pemuda itu lagi, “kenapa orang-orang jadi tidak peduli?”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: