Trotoar yang Tidak Pernah Pulang

Trotoar yang Tidak Pernah Pulang

Cerpen karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Langkahnya perlahan, seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa dunia tidak sesederhana yang ia kira.

Rahman kembali bersandar. Hujan telah berhenti. Tapi dingin masih tinggal.

Ia menatap jalanan.

Orang-orang masih lewat. Masih sibuk. Masih terburu-buru.

Arena sosial itu tetap riuh.

Tapi di antara suara-suara itu, ia tahu satu hal:

Kesepian tidak pernah benar-benar tentang tidak adanya orang.

Kesepian adalah ketika tidak ada yang benar-benar hadir.

Dan malam itu, di bawah lampu yang hampir mati, Rahman merasa, untuk sesaat 

ada seseorang yang hampir mendengar.###TAMAT###-_-

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: