Trotoar yang Tidak Pernah Pulang
Cerpen karya Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
“Bedanya?”
“Penyesalan adalah keinginan untuk mengubah masa lalu. Kekecewaan adalah kesadaran bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar milik kita.”
Pemuda itu menatap Rahman, mencoba memahami, tapi mungkin belum mampu.
“Kalau begitu… apa yang masih membuat Bapak bertahan?”
Rahman membuka matanya. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan harapan. Tapi juga bukan keputusasaan.
“Saya ingin melihat… apakah dunia ini suatu hari akan belajar mendengarkan.”
Pemuda itu tersenyum kecil. “Dan kalau tidak?”
Rahman mengangkat bahu.
“Setidaknya saya sudah tidak lagi berpura-pura bahwa ia pernah mendengar.”
Seorang wanita lewat. Ia melirik sekilas ke arah mereka, lalu mempercepat langkahnya.
Pemuda itu melihat ke arah itu, lalu kembali ke Rahman.
“Pak… kalau saya pergi sekarang, apakah Bapak akan baik-baik saja?”
Rahman tertawa kecil.
“Pertanyaan itu lucu.”
“Kenapa?”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: