Ia memandang keluar, ke jalan berdebu di depan warung. “Fanny mengajariku, barangkali tanpa sengaja, bahwa tidak semua yang singgah harus tinggal untuk menjadi berarti.”
Aku menyesap kopi. “Tapi bukankah itu menyakitkan?”
“Jelas.” Ia tertawa, kali ini lebih jujur. “Yang menyakitkan bukan kepergian itu sendiri. Yang menyakitkan adalah harapan bahwa dunia seharusnya patuh pada keinginan kita.”
Ia mengetuk meja pelan dengan kuku jarinya. “Setelah ia pergi, aku marah. Lalu sedih. Lalu marah lagi pada diriku sendiri karena masih sedih. Pada akhirnya aku lelah. Dari kelelahan itulah kadang orang mulai waras.”
“Jadi kau memaafkannya juga?”
“Aku tidak tahu apakah itu memaafkan atau sekadar menerima bahwa setiap orang punya jalan yang tak selalu melibatkan kita.”
Ia mengangkat cangkir, lalu berkata pelan, “Para sufi sering bicara tentang fana, tentang lenyapnya keakuan. Di dunia biasa, itu terasa terlalu tinggi. Tapi mungkin bentuk sederhananya begini: berhenti meyakini bahwa semua yang kita cintai harus menjadi milik kita.”
Kalimat itu tinggal di udara beberapa saat.
“Kau sendiri,” katanya kemudian, “mencari apa?”
Pertanyaan itu muncul lagi, dan lagi-lagi aku tak bisa menjawabnya dengan mudah.
“Mungkin arah.”
Carmen menatapku lama, lalu tersenyum, seolah ia pernah melihat jawaban seperti itu pada wajah banyak orang. “Hati-hati dengan arah. Kadang kita mengira sedang mencari jalan, padahal sebenarnya kita sedang lari dari tempat yang menunggu kita pulang.”
Ia masuk sebentar ke ruang belakang, lalu membawa bungkusan kecil berisi rokok linting.
“Untuk di jalan,” katanya. “Bukan rokoknya yang penting. Tapi ingatan bahwa pernah ada satu siang di Karangjati ketika kau duduk mendengar cerita orang asing.”
Sebelum aku pergi, ia berkata tanpa melihatku, “Kalau kau bertemu Fanny, bilang aku tidak lagi marah. Juga tidak lagi menunggu.”
*********Menjelang sore aku mencari nama terakhir: Cester Gila. Orang-orang menyebutnya begitu tanpa niat menghina, seperti nama itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Anak-anak kecil bahkan menyebutnya dengan nada akrab. Seorang tukang tambal ban menunjukkan arah ke gudang perahu di hilir sungai.