Ia bangkit, membuka jendela sedikit lebih lebar, lalu kembali duduk.
“Saya juga pernah membaca Rabi’ah,” katanya, “tentang cinta yang tak menuntut balasan. Mula-mula saya tidak mengerti. Dalam hidup sehari-hari, hampir semua orang menuntut sesuatu: pengertian, kesetiaan, pengakuan, atau sekadar ucapan terima kasih. Tapi barangkali yang dimaksud para sufi bukan cinta yang lemah. Melainkan cinta yang sudah begitu luas sehingga tak sempat lagi menghitung.”
Ia meletakkan cangkir di lantai.
“Suatu pagi saya sadar: kalau saya terus marah pada Fanny, sebenarnya saya sedang membuatnya tetap tinggal di dalam hati saya, dalam bentuk yang paling buruk. Maka saya belajar melepaskannya.”
“Memaafkan?” tanyaku.
“Ya. Tapi jangan bayangkan itu indah.” Ia tertawa kecil, pahit namun ringan. “Memaafkan itu kerja yang kasar. Seperti mengangkat lumpur dari dasar sumur. Tidak sekali jadi.”
Ia masuk ke kamar sebentar, lalu kembali membawa secarik kertas kecil yang sudah dilipat.
“Tidak usah dibaca,” katanya. “Kalau suatu hari kamu bertemu dia, berikan ini.”
Aku menerima kertas itu.
“Katakan juga,” lanjutnya, “saya baik-baik saja. Tidak sepenuhnya sembuh, tapi cukup waras untuk tidak lagi memelihara luka.”
Ketika aku pamit, Bu Musa mengantarku sampai teras. Sebelum aku turun anak tangga, ia berkata, “Anak muda, hati-hati. Orang yang terlalu lama berjalan sendirian kadang lupa bahwa beban bisa dibagi.”
Aku menoleh. Ia tidak lagi melihatku, melainkan menatap sungai.
********Dari rumah Bu Musa, aku kembali ke pasar. Menjelang siang, Karangjati terasa lebih hidup. Becak lalu-lalang. Pedagang ikan meneriakkan harga. Anak-anak sekolah pulang dengan seragam kusut dan tawa yang memantul di dinding toko-toko. Aku bertanya pada penjual rokok tentang Carmen. Ia menunjuk ke arah deretan warung dekat panggung hiburan pasar malam.
“Yang jaga warung kopi-merangkap-karaoke itu.”
Warungnya lebih ramai menjelang malam, kata orang. Namun siang itu sudah ada beberapa lelaki duduk di bangku panjang, minum kopi sambil bermain kartu. Dari radio terdengar lagu lama campursari yang suaranya pecah.
Carmen duduk di belakang meja kasir. Usianya sulit ditebak, tidak muda, tapi masih menyimpan sisa-sisa ketampanan masa lalu pada garis wajahnya. Rambutnya disanggul asal, tangannya cekatan menghitung uang kembalian.