Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Senin 12-10-2026,16:19 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Bahwa hidup tidak harus dipahami dulu untuk dijalani. Kadang ia cukup diterima seperti sungai menerima daun, bangkai ayam, perahu, anak-anak yang berenang, juga doa orang miskin.”

Ia mematikan kretek di lantai semen.

“Orang menyebutku gila karena aku berhenti mengejar bentuk hidup yang rapi. Aku pernah punya keluarga. Pernah punya kerja tetap. Pernah ingin dianggap berhasil. Semua itu pergi sedikit demi sedikit. Mula-mula aku malu. Lalu aku sadar: malu hanya penting selama kita masih hidup berdasarkan mata orang lain.”

Senja makin tebal. Dari masjid di seberang sungai terdengar azan.

“Pulang itu apa, menurutmu?” tanyaku.

Cester tersenyum, kali ini tanpa lelucon. “Pulang adalah saat seseorang tak lagi bertengkar dengan takdirnya.”

Kalimat itu jatuh perlahan, namun dalam.

Sebelum aku pergi, ia menepuk tasku. “Salam dari Fanny itu cuma pintu. Yang berat bukan suratnya. Yang berat adalah setelah ini kau tak bisa lagi pura-pura tidak tahu bahwa hidup orang lain ikut mengubah hidupmu.”

********

Malam terakhirku di Karangjati, aku kembali ke warung Pak Lukman. Hujan tipis turun, membuat lampu terminal memantul di genangan. Sopir-sopir duduk melingkar sambil merokok. Seorang ibu menjual pisang goreng yang baru diangkat dari minyak. Di kejauhan, sungai terdengar seperti seseorang yang berbicara dalam tidur.

Pak Lukman sedang mengelap meja.

“Sudah selesai?”

“Sudah.”

Ia menuang kopi tanpa bertanya lagi. Seolah beberapa hal tak perlu dijelaskan dua kali.

“Apa yang kau dapat?” tanyanya akhirnya.

Aku memandang uap kopi yang naik. “Bahwa hidup ini berat.”

Pak Lukman tertawa kecil. “Itu baru setengah.”

Kategori :