Gudang itu berdiri miring, beratap seng karatan, dengan beberapa perahu kayu terikat di tiang. Saat aku mendekat, terdengar seseorang bernyanyi fals sambil memukul-mukul ember.
Pintu terbuka sebelum sempat kuketuk.
“Kau kiriman siapa?” tanya lelaki berambut awut-awutan itu.
“Fanny.”
Ia tertawa keras sekali, sampai burung-burung di pohon sengon sebelah terbang berhamburan. “Tentu saja. Masuk!”
Di dalam gudang, ada jala, pelampung, kayu-kayu bekas, dan setumpuk buku yang tergeletak tak beraturan. Bau solar, lumpur, dan asap kretek bercampur jadi satu. Cester sendiri kurus, matanya tajam, wajahnya seperti wajah orang yang terlalu lama berteman dengan matahari dan tidur seadanya.
“Duduk. Di sini tidak ada kursi bagus. Yang ada cuma peti, perahu, dan pikiran yang belum beres.”
Aku duduk di peti kayu. Ia menyalakan kretek dan menyodorkan bungkusnya. Aku menolak.
“Jadi,” katanya, “apa kata Bu Musa? Apa kata Carmen? Jangan-jangan dua-duanya menangis dan memelukmu?”
“Tidak.”
“Nah, bagus. Orang yang terlalu cepat menangis biasanya belum selesai dengan dirinya.”
Ia tertawa lagi, lalu tiba-tiba diam. “Setiap orang di kota ini menyimpan sesuatu dari Fanny. Entah marah, entah rindu, entah pelajaran yang belum sempat dirapikan.”
“Kau sendiri?”
“Aku?” Ia menengadah, seolah jawaban ada di langit-langit seng. “Aku menyimpan hutang rokok dan beberapa percakapan.”
Ia duduk bersila di lantai. Sore di luar mulai turun menjadi keemasan.
“Fanny pernah bilang padaku,” ujarnya, “bahwa manusia paling sering salah paham pada bebannya sendiri. Mereka mengira yang memberatkan adalah nasib, padahal sering kali yang memberatkan adalah penolakan.”