“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.
“Aku membawa salam dari Fanny.”
Ia berhenti menghitung. Matanya naik menatapku. Ada keheningan tipis yang singgah sejenak di wajahnya, lalu hilang.
“Fanny,” ulangnya, seperti sedang mencoba rasa sebuah nama yang lama tidak disebut.
Ia menunjuk bangku di sudut. “Duduklah.”
Ia membuatkan kopi sendiri, lalu duduk di depanku. “Sudah lama sekali,” katanya.
“Kau mengenalnya dekat?”
Ia mengangkat bahu sedikit. “Cukup dekat untuk pernah merasa ditinggal, cukup jauh untuk tak berhak meminta penjelasan.”
Aku menunggu.
“Dulu kami pernah bepergian bersama. Bukan sebagai kekasih yang sah, bukan juga sebagai teman yang rapi. Hidup jarang memberi nama yang tepat untuk hubungan manusia. Kami hanya berjalan dalam ruas waktu yang sama.”
Dari dapur belakang terdengar bunyi panci. Seseorang tertawa di luar. Seorang pembeli memesan rokok, lalu pergi lagi. Carmen tetap tenang, seperti sudah terbiasa menyimpan percakapan di tengah gangguan sehari-hari.
“Aku dulu mengira semua yang baik harus berakhir dengan tinggal,” katanya. “Kalau seseorang pergi, berarti cintanya kurang. Begitu pikirku waktu itu.”
“Lalu?”
“Lalu hidup menertawakan pikiranku.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku pernah membaca Ibn Arabi,” lanjutnya. “Ia menulis bahwa hati manusia bisa menjadi bentuk apa saja. Aku suka kalimat itu karena ia membebaskan. Artinya hati tidak harus dibangun seperti rumah permanen. Ia bisa menjadi tenda. Bisa menjadi persinggahan.”