Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Senin 12-10-2026,16:19 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Penolakan terhadap apa?”

“Terhadap kenyataan bahwa hidup tak pernah dibangun untuk menyenangkan satu orang saja.”

Aku diam.

“Kau terlihat capek,” katanya.

“Mungkin.”

“Bagus.”

Aku mengerutkan dahi.

“Orang yang tidak capek biasanya masih sibuk pura-pura kuat.” Ia tersenyum, lalu meraih sebuah buku dari tumpukan di dekat dinding. “Kau tahu Shams Tabrizi?”

“Guru Rumi.”

“Nah. Ada satu gagasan yang kusukai dari para pengembara jiwa macam mereka: bahwa apa yang kau cari sebenarnya sedang mencarimu. Waktu muda aku pikir itu kalimat puitis buat orang patah hati. Setelah tua, aku sadar itu kalimat yang berbahaya. Sebab artinya kita tak bisa terus-menerus kabur.”

Ia menatapku langsung. “Kau datang ke Karangjati bukan untuk tiga nama itu.”

“Lalu?”

“Untuk dirimu sendiri yang selama ini belum sempat kau temui.”

Aku ingin tertawa menolak, tapi sesuatu di dalam diriku justru terdiam.

Cester melanjutkan, “Bu Musa memberimu wajah pengampunan. Carmen memberimu wajah pelepasan. Aku, kalau boleh sombong sedikit, memberi wajah kegilaan yang waras.”

“Maksudnya?”

Kategori :