Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Senin 12-10-2026,16:19 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Malam itu aku menyewa kamar losmen tak jauh dari terminal. Kamarnya sempit, hanya muat ranjang besi, kursi plastik, dan cermin kusam yang menggantung miring di dinding. Dari jendela, aku bisa mendengar suara sungai yang jauh, juga sesekali motor lewat, dan seruan anak-anak yang masih bermain petak umpet di gang.

Aku mengeluarkan surat Fanny dan membacanya sekali lagi. Tiga nama itu tampak sederhana, tetapi di kota kecil, nama-nama selalu membawa akar. Aku membayangkan ketiganya hidup di tempat berbeda, mengurus hidup masing-masing, tanpa tahu bahwa esok pagi seorang lelaki asing akan datang membawa salam dari masa lalu.

Sebelum tidur, aku teringat pada wajah Fanny terakhir kali kami bertemu. Kami duduk di sebuah stasiun kecil, menunggu kereta yang terlambat. Ia meminum teh dari gelas kertas dan berkata, “Kadang seseorang tak perlu datang membawa jawaban. Cukup hadir sebagai saksi bahwa rasa sakit pernah benar-benar terjadi.” Aku tidak sepenuhnya mengerti waktu itu. Kini, di kota kecil yang belum kukenal, kalimat itu terasa seperti pintu yang baru mulai terbuka.

*********

Pagi di Karangjati turun pelan, seperti embun yang lebih dulu menyentuh daun pisang daripada tanah. Dari jalan depan losmen terdengar suara penjual sayur, sepeda ontel yang berderit, dan panggilan ibu-ibu dari dapur belakang rumah. Aku berjalan menuju pasar, lalu menuruni gang sempit yang di kiri-kanannya tumbuh bambu dan pohon kelapa. Sungai mulai terlihat dari kejauhan, cokelat kehijauan, bergerak lambat, memantulkan langit pagi yang pucat.

Rumah Bu Musa berdiri di atas tanah agak tinggi, menghadap sungai. Rumah panggung kecil, cat hijaunya mulai terkelupas, terasnya sempit, dengan pot-pot bunga yang sebagian layu. Aku mengetuk pintu. Dari dalam terdengar langkah sandal menyeret lantai kayu.

Pintu terbuka. Seorang perempuan sepuh berdiri dengan tubuh kurus dan tatapan yang lurus. Wajahnya tidak ramah, tetapi juga tidak menolak. Wajah seseorang yang telah belajar menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang datang mendadak.

“Ya?”

“Saya… membawa salam dari Fanny.”

Nama itu bekerja seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang. Matanya berkedip sekali. Lalu sekali lagi. Sesaat ia tidak berkata apa-apa, sebelum kemudian menggeser daun pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Di dalam rumah, udara berbau teh, kayu tua, dan kamper. Ada rak buku di dinding, jam weker rusak di atas meja, dan foto keluarga dalam bingkai plastik yang warnanya memudar. Bu Musa menyuruhku duduk di tikar pandan, lalu ia pergi ke dapur dan kembali membawa dua cangkir teh panas.

“Dia masih ingat saya?” tanyanya akhirnya.

“Saya hanya diminta menyampaikan salam.”

Ia tersenyum kecil. Bukan senyum gembira, lebih seperti seseorang yang mengenali kebiasaan lama. “Ya, itu Fanny. Datang tanpa aba-aba, pergi tanpa penjelasan, dan kalau mengirim pesan selalu pendek seperti utang yang belum lunas.”

Aku diam. Ia menyesap tehnya pelan.

“Kamu kenal dia dekat?”

Kategori :