Terminal Sungai dan Beban yang Kita Bawa

Senin 12-10-2026,16:19 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Setengah lainnya?”

“Bahwa berat itu tak selalu harus dibuang. Kadang cukup dibagi. Kadang cukup diakui.”

Ia duduk di hadapanku. “Orang-orang kota besar sering berpikir keselamatan datang dari kecepatan: segera selesai, segera sembuh, segera lupa. Di kota kecil kami tahu sesuatu yang lebih lambat: ada hal-hal yang tidak selesai, tidak sembuh, tidak lupa, tetapi tetap bisa dibawa dengan cara yang lebih manusiawi.”

Hujan makin rapat. Seorang kernet berteriak memanggil penumpang bus malam.

Pak Lukman menatap ke arah suara itu, lalu berkata, “Dalam tasawuf, orang bicara tentang perjalanan menuju Tuhan. Tapi sebelum itu, manusia sering kali harus belajar satu hal yang lebih dekat: perjalanan menuju sesama. Sebab kadang Tuhan menyembunyikan pelajaran-Nya dalam wajah orang lain.”

Aku teringat Bu Musa yang belajar memaafkan, Carmen yang belajar membiarkan, Cester yang belajar menerima dirinya sendiri. Dan aku, aku belum tahu apa yang sedang kupelajari, selain bahwa ketiganya kini tinggal di kepalaku seperti tiga pintu yang baru terbuka.

“Kalau begitu,” kataku, “apa beban saya?”

Pak Lukman tersenyum, seolah pertanyaan itu memang ditunggu. “Keinginan untuk terus berjalan tanpa pernah benar-benar singgah.”

Aku terdiam.

Ia mengaduk kopinya. “Ada orang yang menetap tapi jiwanya lari terus. Ada orang yang mengembara tapi hatinya justru pulang. Kau harus pilih sendiri kau yang mana.”

Bus pagiku berangkat sebelum matahari tinggi. Saat aku naik, terminal masih basah oleh sisa hujan malam. Pak Lukman mengangkat tangan dari warung. Seorang anak kecil menyapu peron. Di tepi sungai, kabut menggantung tipis. Karangjati tampak sederhana, nyaris biasa. Tetapi justru karena itulah ia mampu menyimpan hal-hal yang penting tanpa perlu mengumumkannya.

Di dalam bus, aku mengeluarkan surat Fanny, lalu tiga titipan yang kini kutanggung: secarik kertas dari Bu Musa, pesan lisan Carmen, dan kalimat-kalimat Cester yang masih berserakan di kepalaku. Aku tidak tahu kapan akan bertemu Fanny lagi. Mungkin besok. Mungkin beberapa tahun lagi. Mungkin tidak pernah.

Namun saat bus mulai bergerak dan terminal itu pelan-pelan menjauh dari jendela, aku tahu satu hal: aku tidak lagi membawa salam semata. Aku membawa pengampunan yang belum sempurna, pelepasan yang pahit namun jernih, dan penerimaan yang kasar tetapi lapang. Aku membawa suara sungai, bau kopi tubruk, cahaya bohlam terminal, dan wajah-wajah orang yang hidupnya tak besar, tetapi kedalaman batinnya melebihi kota-kota yang gaduh.

Karangjati mengecil menjadi titik di belakang. Jalan terbentang lagi. Sawah-sawah melintas, pohon-pohon randu mundur perlahan, dan langit pagi terbuka seperti lembaran yang baru.

Baru saat itu aku mengerti: yang membuat hidup terasa berat bukan semata-mata karena kita memikul terlalu banyak, melainkan karena terlalu lama mengira bahwa semuanya harus dipikul sendiri.

Dan mungkin itulah sebabnya manusia dipertemukan di terminal, di warung kopi, di tepi sungai, di gang pasar, di kota kecil yang nyaris tak tercatat, agar dari satu hidup ke hidup lain, kita belajar cara menjadi beban yang lebih ringan bagi sesama, dan sekaligus menjadi bahu yang lebih lapang bagi apa pun yang tak sanggup lagi dipikul orang lain. 

Kategori :