Arsa tertawa. “Mungkin listrik padam adalah cara semesta memberi kita ruang.”
“Ruang untuk apa?” tanya Sasmita.
“Untuk melihat apa yang sudah lama kita abaikan.”
Ia mengambil gitar tua yang sudah lama tidak ia sentuh, tubuhnya agak kikuk tapi suaranya tetap hangat.
Arsa memainkan melodi sederhana, lalu bernyanyi pelan:
“May your heart always be joyful…”
Sasmita menutup mata. Napasnya bergetar.
“Mas Arsa…”
“Ya?”
“Kenapa kau masih… menyimpan rasa itu?”
Arsa menghentikan petikan gitarnya.
Ia memandang wanita itu, lama sekali, seolah ingin memastikan kata-kata yang keluar benar-benar milik hatinya.
“Aku tidak tahu cara berhenti mencintaimu,” katanya akhirnya.
“Bahkan ketika aku sudah mencoba.”
Sasmita menunduk. Bahunya sedikit gemetar.
“Aku menyesal pernah pergi,” katanya.