Perempuan yang Menyimpan Malam di Kulitnya
Ilustrasi Cerpen Perempuan yang Menyimpan Malam di Kulitnya-Istock/Pinkomelet-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Ia tidak menggoda seperti perempuan-perempuan yang biasa kutemui. Tidak ada janji, tidak ada ajakan. Justru ketidakhadirannya itulah yang membuat tubuhku selalu waspada, seolah ada arus listrik rendah yang mengalir di udara setiap kali ia mendekat.
Namanya Sekarwangi. Tapi bagiku, ia lebih menyerupai malam gelap, berlapis, dan tak pernah sepenuhnya terbuka.
Pertama kali aku melihatnya, ia berdiri di sudut panggung, memeluk gitar seperti memeluk rahasia. Lampu temaram menyentuh bahunya, lalu meluncur ke lekuk lehernya, berhenti di sana seakan takut melangkah lebih jauh. Saat ia mulai memainkan senar, sesuatu di dadaku ikut bergetar. Nada-nada itu tidak ramah. Mereka merayap, melingkar, mengikat.
Aku merasa telanjang tanpa benar-benar membuka pakaian apa pun.
***********
Suara Sekarwangi bukan suara yang memanggil. Ia menarik. Perlahan, tanpa paksaan, seperti tangan yang menyentuh punggung lalu turun sedikit demi sedikit, cukup untuk membuatmu lupa bahwa kau punya kehendak sendiri.
Setiap kata yang ia nyanyikan terasa basah oleh pengalaman. Seolah suaranya pernah dicium oleh terlalu banyak kesedihan, dan kini menyimpan sisa-sisanya di sela napas. Aku menutup mata, dan mendapati tubuhku mengikuti ritme yang tidak kumengerti.
Di antara penonton, aku melihat lelaki-lelaki lain dengan wajah serupa: mata setengah terpejam, rahang mengeras, napas tertahan. Kami semua sedang berada di bawah pengaruh yang sama. Tapi tidak ada yang berani menyebutnya apa.
Sihir, kata mereka.
Aku menyebutnya kerinduan yang menemukan tubuhnya.
**********
Setelah pertunjukan, aku menemuinya. Bau keringat, asap rokok, dan kayu tua bercampur di ruang sempit belakang panggung. Sekarwangi duduk di kursi lipat, menunduk, mengelap senarnya dengan kain hitam. Tangannya panjang, jari-jarinya lentik, bergerak pelan seperti tahu ke mana harus pergi.
“Kau menatapku seperti ingin mengingat sesuatu,” katanya tanpa menoleh.
“Mungkin aku pernah mengenalmu,” jawabku.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: